Sudah tau kan siapa Super Junior itu? Ya. Kumpulan namja ganteng ini adalah sebuah boyband asal korea selatan yang lagi istirahat sejenak, readers ^^
Semua lagu-lagunya enak lo.. Selain modal tampang ganteng mereka juga punya suara yang sangat khas😍
Yang baca ini siap-siap jadi ELF ya.. 😊
Btw... Disini saya tidak membuat member urutan terakhir. Karena bagi saya mereka tidak ada yang pantas berada di urutan terakhir 😍
URUTAN MEMBER SUJU TERTAMPAN
(1) Lee Donghae
(2) Choi Siwon
(3) Cho Kyuhyun opppaaaaaaa 😍
(4) Kim Ryeowook
(5) Leeteuk
(6) Eunhyuk oppppaaaaaa 😍
(7) Heechul
(8) Yesung
(9) Shindong dan Kangin
JAGO NGEDANCE
(1) Eunhyuk oppaaaaa😍
(2) Lee Donghae
(3) Shindong
(4) Kyuhyun
(5) Ryeowook
(6) Yesung
(7) Leeteuk
(8) Heechul
(9) Sungmin dan Kangin
SUARA EMAS
(1) Yesung
(2) Ryeowook
(3) Kyuhyun ❤
(4) Sungmin
(5) Leeteuk
(6) Kangin
(7) Donghae
(8) Heechul
(9) Shindong dan Eunhyuk❤
Ya.. Itulah beberapa list member suju dalam berbagai kategori versi saya. Jadi, para pembaca tidak perlu dan tidak wajib setuju dengan list diatas. Saya membuat list tersebut hanya untuk mencurahkan isi hati yang terpendam sejak lama (walah walah) ^^
Oya. Untuk mengetahui recommended list list lagu dan MV Super Junior anda bisa mengunjungi situs web milik seorang ELF kenalan saya 😊 alamatnya dibawah ini 👇
http://shinhyekyung.blogspot.co.id/?m=1
Terimakasih telah membaca 😊
Bagaimana versi anda?
Akari's
Minggu, 22 Januari 2017
Sabtu, 21 Januari 2017
Nama, Lentera Harapan Ayah Bunda
Nama adalah doa. Memberi nama yang bagus serta berarti baik adalah salah satu kewajiban orangtua. Menamai buah hati tidak hanya atas dasar “indah dibaca” atau “elok didengar”. Namun juga harus memperhatikan arti serta kandungan dari nama tersebut karena nama merupakan identitas abadi setiap insan, yang akan tetap dipakai hingga hari kiamat. Seperti yang tertera dalam arti hadist di bawah ini.
“Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (H.R. Abu Dawud)
“Apalah arti sebuah nama” itulah yang biasa dikatakan orang. Tapi tidak bagi agama Islam. Nama membawa pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan, bahkan dapat memengaruhi karakter serta tingkah laku seorang manusia. Karena, nama ialah hajat yang dipanjatkan pada Yang Maha Kuasa.
Bicara soal nama, aku jadi ingat suatu kejadian mengharukan. Hari itu, aku sedang iseng membuka koleksi buku milik ibu. Ibuku suka membaca. Bahkan beliau nyaris mempunyai semua jenis buku. Tak jarang beliau memamerkannya padaku. “Nduk, ini ada buku bagus kamu ndak mau baca?” Begitulah katanya. “Jangan baca novel saja. Pelajar itu harus punya banyak wawasan” Lanjutnya. Aku memang lebih suka membaca novel daripada membaca buku yang terkesan kaku. Dulu aku mencoba membaca salah satu buku. Alhasil, belum kutamatkan hingga sekarang. Padahal aku pernah membaca 6 novel dengan tebal sekitar 200 halaman dalam waktu dua hari.
Setelah melihat-lihat seisi meja ibu, perhatianku teralih pada sebuah buku biru yang mencuat miring dari barisannya. Kuambil buku itu. Usang. Ada tulisan “Buku Ibuk” di sampulnya. Aku tertawa kecil. Aku mengenali tulisan itu. Benar, tulisan jelek nan berantakan itu adalah milikku. Aku membukanya perlahan. Halaman pertama berisi rangkuman rapi tentang kandungan Al Qur’an. Halaman kedua masih sama. Saat kubalik, aku menemukan gambar aneh mirip kereta dengan masinis yang semua rambutnya berdiri. Kata “Amira” tercecer dimana-mana. Entah kenapa saat melihat halaman itu aku merasa sangat bodoh.
Aku terus mengamati halaman-halaman berikutnya. Hingga mataku sampai pada serangkaian kata yang membuatku terpana. Ada tiga poin di halaman itu. Poin pertama terdiri dari dua baris bertuliskan “Abdul Ghani” yang telah dicoret dan “Ghani Fahrurrozi Al-Rofiq” yang dilingkari. Nama yang dilingkari itu adalah nama kakak pertamaku kini. Poin kedua bertuliskan “Aziz ‘Uddarojad” dan “’Uddarojad An-Nafi’”. Keduanya tidak dicoret ataupun dilingkari. Tapi nama kakak keduaku berhubungan dengan dua baris tersebut, yaitu Aziz Albar Rofi’uddarojad. Sudah bisa ditebak, poin ketiga adalah perancangan namaku yang juga terdiri dari dua baris yaitu “Amira Karimatannisa” dan “Nafia Karimatannisa”. Keduanya juga tidak dilingkari maupun dicoret. Aku berpikir akan lucu jika namaku sama dengan salah satu sinetron India (Nafya).
Aku berlari menuju ibu sambil membawa buku itu. Percakapan panjang pun terjadi.
“Kenapa ibu tidak jadi menamaiku Nafia?”
“Rasanya itu tidak cocok untukmu. Ibu jadi berubah pikiran”
“Lalu, kenapa namaku sekarang Amira Latifa Karimatannisa bukannya Amira Karimatannisa seperti yang ibu tulis?”
“Sebenarnya ibu menamakanmu Amira Karimatannisa. Tapi tepat sebelum ibu dan ayahmu pergi ke kantor akta, kakekmu datang sambil berkata-tidak, tepatnya berteriak, “Tambahkan Latifah!!” dengan sangat semangat. Kamu tau sendiri kakekmu selalu berkata dengan nada tinggi setengah ngotot. Rasanya tidak enak jika menolak permintaan itu. Sehingga ibu memasukkannya dalam namamu, sehingga jadi Amira Latifah Karimatannisa. Kau tau, kakekmu juga penyebab ibu menambahkan kata “Albar” dalam nama kakakmu. Ia juga datang sambil berteriak “Tambahkan Albar!!” saat ibu mau pergi ke kantor akta”
“Latifah? Tapi namaku Latifa”
“Ibu yakin menulis “Latifah” di kertas yang diberikan pengurus akta. Tapi entah kenapa saat akta itu jadi tulisannya menjadi Latifa.”
“Lalu kenapa nama kakak tidak Abdul Ghani saja?”
“Ibu sangat ingin menamainya Abdul Ghani. Tapi ayahmu menolak.”
“Kenapa?”
“Ayahmu takut kakak malu dengan nama itu. ‘Kan terkesan kuno. Padahal ibu yakin dia tidak akan malu dengan nama itu.”
“Lalu kenapa nama kakak tidak pakai An-Nafi’?”
“Kata itu ibu berikan untuk menamai sepupumu, karena waktu itu bulek datang kerumah meminta saran nama pada ibu.”
“Kalau dipikir-pikir, semua nama kakak ada kata “Rofi” nya bukan?”
“Iya. Itu nama ayahmu”
“Kenapa ibu tidak melakukannya padaku juga?”
“Apa maksudmu? Itu ‘kan nama laki-laki. Mana cocok untuk anak perempuan. Nama perempuan biasanya terkesan lembut sedangkan laki-laki terkesan tegas.”
“Apa arti kata “Amira”, Bu?”
“Berasal dari kata “Amir” yang artinya pemimpin.”
“Kalau Latifah?”
“Berasal dari kata “Al-Lathif” yang artinya lembut”
“Kalau Karimatannisa?”
“Itu gabungan dua kata, “Karim” dan “An-Nisa”. Karim artinya mulia, sedangkan An-Nisa artinya wanita.”
“Jadi... arti namaku... Pemimpin wanita yang lembut dan mulia?”
“Ibu ingin kamu menjadi pemimpin wanita yang lembut dan mulia di dunia dan di akhirat. Kabulkan doa orangtua mu ini ya, Nak”
“Insyaallah, Bu.”
Begitulah asal mula aku mengetahui arti namaku. Aku sangat tidak menyangka bahwa arti namaku begitu indah. Tapi sepertinya aku masih belum bisa dikatakan sebagai pemimpin wanita yang lembut dan mulia. Bahkan aku belum bisa memimpin diriku sendiri dari hawa nafsu dan dosa. Seperti syair Abunawas “Dosaku tak terhitung bagai bilangan pasir, umurku terus berkurang sedang dosaku terus bertambah”.
Ketika memimpin sebuah organisasi pun aku selalu ingin menang sendiri, tidak mendengar kritikan atau masukan dari anggota lain, memarahi mereka, menolak pendapat yang baik untuk kemajuan, dan lain sebagainya. Aku belum bisa memimpin orang lain, jadi kini aku tengah berusaha memimpin diriku sendiri menghindari perbuatan buruk dan maksiat. Kelihatannya menjadi pemimpin merupakan hal yang enteng namun sejatinya sangat berbobot. Seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas dirinya, rakyatnya, dan kekuasaanya. Seperti yang telah dicantumkan dalam hadits berikut ini.
“Ibnu Umar berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinanny. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya dan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu rumah tangga/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) dari hal-hal yang dimpimpinnya.” (H.R Bukhori Muslim)
Kadang aku merasa malu setiap mengingat-ingat arti namaku. Rasanya aku masih sangat jauh dari harapan orangtua yang dipanjatkan lewat nama. Aku benar-benar manusia hina penuh dosa yang belum bisa memimpin diri sendiri. Tapi disisi lain, aku menjadikan namaku sebagai prinsip hidup. “Aku harus menjadi seperti namaku” itulah yang sering kupikirkan. 3 kata dalam namaku selalu melekat, berputar-putar di kepalaku. “Apa yang harus kulakukan untuk itu?” “Apa yang harus kutinggalkan untuk itu?” “Apa yang harus kuperjuangkan untuk itu?”
Mengingat nama sama seperti menginstropeksi diri. Dengan mengingatnya, aku berpikir apa yang harus kulakukan demi menggapai arti sebenarnya dari sebuah nama. Aku memang sudah menemukan artinya. Tapi aku belum bisa menggapai arti sebenarnya. Aku bukan Abu Bakar As-Shiddiq yang bisa memimpin rakyatnya dengan sangat adil. Aku bukan Umar bin Khattab yang selalu mengawasi kecukupan rakyatnya. Aku hanya seorang manusia biasa yang sedang mencari jati diri. Tidak lebih dari itu.
Bagi semua yang telah membaca, doakan aku agar bisa menjadi seorang pemimpin wanita yang lembut dan mulia, seperti nama yang telah diberikan orangtuaku. Untuk ayah dan ibu yang telah memikirkan namaku dengan susah payah, terima kasih. Terima kasih telah memberiku nama yang indah. Terima kasih telah mendoakanku supaya menjadi pemimpin yang lembut. Maaf hingga kini anakmu ini masih belum bisa mengabulkan harapan yang telah lama kalian panjatkan. Doakan saja, semoga aku bisa menjadi seperti yang kalian inginkan.
Teman, jangan pernah berencana untuk mengubah nama yang baik. Karena nama itu adalah harapan orangtua kita. Ingatlah, dengan nama asli kita akan dipanggil di hari kiamat. Bukan dengan nama samaran yang kita buat, bukan dengan nama keren yang kita karang, juga bukan dengan nama sosmed yang kita publikasikan. Banggalah dengan namamu. Jangan sampai kalimat “Aku benci namaku” terlintas di benak.
Akhir kata, semoga Allah memberikan hidayah pada kita untuk menjadi insan yang ‘sesuai nama’. Terus kejar arti namamu yang sebenarnya. Jangan pernah melupakan tujuan hidup untuk menjadi manusia yang berkakhlak mulia. Buat orangtua bangga dengan mewujudkan hajat mereka. Karena tiada yang tau kapan maut menjemputnya.
“Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (H.R. Abu Dawud)
“Apalah arti sebuah nama” itulah yang biasa dikatakan orang. Tapi tidak bagi agama Islam. Nama membawa pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan, bahkan dapat memengaruhi karakter serta tingkah laku seorang manusia. Karena, nama ialah hajat yang dipanjatkan pada Yang Maha Kuasa.
Bicara soal nama, aku jadi ingat suatu kejadian mengharukan. Hari itu, aku sedang iseng membuka koleksi buku milik ibu. Ibuku suka membaca. Bahkan beliau nyaris mempunyai semua jenis buku. Tak jarang beliau memamerkannya padaku. “Nduk, ini ada buku bagus kamu ndak mau baca?” Begitulah katanya. “Jangan baca novel saja. Pelajar itu harus punya banyak wawasan” Lanjutnya. Aku memang lebih suka membaca novel daripada membaca buku yang terkesan kaku. Dulu aku mencoba membaca salah satu buku. Alhasil, belum kutamatkan hingga sekarang. Padahal aku pernah membaca 6 novel dengan tebal sekitar 200 halaman dalam waktu dua hari.
Setelah melihat-lihat seisi meja ibu, perhatianku teralih pada sebuah buku biru yang mencuat miring dari barisannya. Kuambil buku itu. Usang. Ada tulisan “Buku Ibuk” di sampulnya. Aku tertawa kecil. Aku mengenali tulisan itu. Benar, tulisan jelek nan berantakan itu adalah milikku. Aku membukanya perlahan. Halaman pertama berisi rangkuman rapi tentang kandungan Al Qur’an. Halaman kedua masih sama. Saat kubalik, aku menemukan gambar aneh mirip kereta dengan masinis yang semua rambutnya berdiri. Kata “Amira” tercecer dimana-mana. Entah kenapa saat melihat halaman itu aku merasa sangat bodoh.
Aku terus mengamati halaman-halaman berikutnya. Hingga mataku sampai pada serangkaian kata yang membuatku terpana. Ada tiga poin di halaman itu. Poin pertama terdiri dari dua baris bertuliskan “Abdul Ghani” yang telah dicoret dan “Ghani Fahrurrozi Al-Rofiq” yang dilingkari. Nama yang dilingkari itu adalah nama kakak pertamaku kini. Poin kedua bertuliskan “Aziz ‘Uddarojad” dan “’Uddarojad An-Nafi’”. Keduanya tidak dicoret ataupun dilingkari. Tapi nama kakak keduaku berhubungan dengan dua baris tersebut, yaitu Aziz Albar Rofi’uddarojad. Sudah bisa ditebak, poin ketiga adalah perancangan namaku yang juga terdiri dari dua baris yaitu “Amira Karimatannisa” dan “Nafia Karimatannisa”. Keduanya juga tidak dilingkari maupun dicoret. Aku berpikir akan lucu jika namaku sama dengan salah satu sinetron India (Nafya).
Aku berlari menuju ibu sambil membawa buku itu. Percakapan panjang pun terjadi.
“Kenapa ibu tidak jadi menamaiku Nafia?”
“Rasanya itu tidak cocok untukmu. Ibu jadi berubah pikiran”
“Lalu, kenapa namaku sekarang Amira Latifa Karimatannisa bukannya Amira Karimatannisa seperti yang ibu tulis?”
“Sebenarnya ibu menamakanmu Amira Karimatannisa. Tapi tepat sebelum ibu dan ayahmu pergi ke kantor akta, kakekmu datang sambil berkata-tidak, tepatnya berteriak, “Tambahkan Latifah!!” dengan sangat semangat. Kamu tau sendiri kakekmu selalu berkata dengan nada tinggi setengah ngotot. Rasanya tidak enak jika menolak permintaan itu. Sehingga ibu memasukkannya dalam namamu, sehingga jadi Amira Latifah Karimatannisa. Kau tau, kakekmu juga penyebab ibu menambahkan kata “Albar” dalam nama kakakmu. Ia juga datang sambil berteriak “Tambahkan Albar!!” saat ibu mau pergi ke kantor akta”
“Latifah? Tapi namaku Latifa”
“Ibu yakin menulis “Latifah” di kertas yang diberikan pengurus akta. Tapi entah kenapa saat akta itu jadi tulisannya menjadi Latifa.”
“Lalu kenapa nama kakak tidak Abdul Ghani saja?”
“Ibu sangat ingin menamainya Abdul Ghani. Tapi ayahmu menolak.”
“Kenapa?”
“Ayahmu takut kakak malu dengan nama itu. ‘Kan terkesan kuno. Padahal ibu yakin dia tidak akan malu dengan nama itu.”
“Lalu kenapa nama kakak tidak pakai An-Nafi’?”
“Kata itu ibu berikan untuk menamai sepupumu, karena waktu itu bulek datang kerumah meminta saran nama pada ibu.”
“Kalau dipikir-pikir, semua nama kakak ada kata “Rofi” nya bukan?”
“Iya. Itu nama ayahmu”
“Kenapa ibu tidak melakukannya padaku juga?”
“Apa maksudmu? Itu ‘kan nama laki-laki. Mana cocok untuk anak perempuan. Nama perempuan biasanya terkesan lembut sedangkan laki-laki terkesan tegas.”
“Apa arti kata “Amira”, Bu?”
“Berasal dari kata “Amir” yang artinya pemimpin.”
“Kalau Latifah?”
“Berasal dari kata “Al-Lathif” yang artinya lembut”
“Kalau Karimatannisa?”
“Itu gabungan dua kata, “Karim” dan “An-Nisa”. Karim artinya mulia, sedangkan An-Nisa artinya wanita.”
“Jadi... arti namaku... Pemimpin wanita yang lembut dan mulia?”
“Ibu ingin kamu menjadi pemimpin wanita yang lembut dan mulia di dunia dan di akhirat. Kabulkan doa orangtua mu ini ya, Nak”
“Insyaallah, Bu.”
Begitulah asal mula aku mengetahui arti namaku. Aku sangat tidak menyangka bahwa arti namaku begitu indah. Tapi sepertinya aku masih belum bisa dikatakan sebagai pemimpin wanita yang lembut dan mulia. Bahkan aku belum bisa memimpin diriku sendiri dari hawa nafsu dan dosa. Seperti syair Abunawas “Dosaku tak terhitung bagai bilangan pasir, umurku terus berkurang sedang dosaku terus bertambah”.
Ketika memimpin sebuah organisasi pun aku selalu ingin menang sendiri, tidak mendengar kritikan atau masukan dari anggota lain, memarahi mereka, menolak pendapat yang baik untuk kemajuan, dan lain sebagainya. Aku belum bisa memimpin orang lain, jadi kini aku tengah berusaha memimpin diriku sendiri menghindari perbuatan buruk dan maksiat. Kelihatannya menjadi pemimpin merupakan hal yang enteng namun sejatinya sangat berbobot. Seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas dirinya, rakyatnya, dan kekuasaanya. Seperti yang telah dicantumkan dalam hadits berikut ini.
“Ibnu Umar berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinanny. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya dan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu rumah tangga/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) dari hal-hal yang dimpimpinnya.” (H.R Bukhori Muslim)
Kadang aku merasa malu setiap mengingat-ingat arti namaku. Rasanya aku masih sangat jauh dari harapan orangtua yang dipanjatkan lewat nama. Aku benar-benar manusia hina penuh dosa yang belum bisa memimpin diri sendiri. Tapi disisi lain, aku menjadikan namaku sebagai prinsip hidup. “Aku harus menjadi seperti namaku” itulah yang sering kupikirkan. 3 kata dalam namaku selalu melekat, berputar-putar di kepalaku. “Apa yang harus kulakukan untuk itu?” “Apa yang harus kutinggalkan untuk itu?” “Apa yang harus kuperjuangkan untuk itu?”
Mengingat nama sama seperti menginstropeksi diri. Dengan mengingatnya, aku berpikir apa yang harus kulakukan demi menggapai arti sebenarnya dari sebuah nama. Aku memang sudah menemukan artinya. Tapi aku belum bisa menggapai arti sebenarnya. Aku bukan Abu Bakar As-Shiddiq yang bisa memimpin rakyatnya dengan sangat adil. Aku bukan Umar bin Khattab yang selalu mengawasi kecukupan rakyatnya. Aku hanya seorang manusia biasa yang sedang mencari jati diri. Tidak lebih dari itu.
Bagi semua yang telah membaca, doakan aku agar bisa menjadi seorang pemimpin wanita yang lembut dan mulia, seperti nama yang telah diberikan orangtuaku. Untuk ayah dan ibu yang telah memikirkan namaku dengan susah payah, terima kasih. Terima kasih telah memberiku nama yang indah. Terima kasih telah mendoakanku supaya menjadi pemimpin yang lembut. Maaf hingga kini anakmu ini masih belum bisa mengabulkan harapan yang telah lama kalian panjatkan. Doakan saja, semoga aku bisa menjadi seperti yang kalian inginkan.
Teman, jangan pernah berencana untuk mengubah nama yang baik. Karena nama itu adalah harapan orangtua kita. Ingatlah, dengan nama asli kita akan dipanggil di hari kiamat. Bukan dengan nama samaran yang kita buat, bukan dengan nama keren yang kita karang, juga bukan dengan nama sosmed yang kita publikasikan. Banggalah dengan namamu. Jangan sampai kalimat “Aku benci namaku” terlintas di benak.
Akhir kata, semoga Allah memberikan hidayah pada kita untuk menjadi insan yang ‘sesuai nama’. Terus kejar arti namamu yang sebenarnya. Jangan pernah melupakan tujuan hidup untuk menjadi manusia yang berkakhlak mulia. Buat orangtua bangga dengan mewujudkan hajat mereka. Karena tiada yang tau kapan maut menjemputnya.
Langganan:
Postingan (Atom)